Hallo guys, are you ice cream lovers?
Who doesn’t know the ice cream? Ice cream is a dessert with an abundance of flavor and enjoyment. And surely you 've ever felt how the enjoyment of ice cream isn’t it? Dessert is always sought after by many people. Maybe if you eat ice cream with the usual variations are all too common. Well here, D’(s)cream wants to introduce new innovations in enjoying ice cream.
Sweet memories of ice cream is a new concept
in eating ice cream, where consumers can choose the flavors according to your
taste and served with a variety of fruit, brownie chunks and grated cheese on
top so as to provide an incredible sensation. Hmmm. Very delicious isn’t it?
Sensation of taste can soothe the hearts, minds, and can eliminate fatigue in
yourself. Only at a price of 12K you can enjoy ice cream is sweet memories.
So, what are you waiting? Come and enjoy the sensation of sweet memories of ice cream at the D’(s)cream which is located in Bekasi. Thankyou (s)cream lover! I scream, you scream, we all scream for ice cream ^^
ATTENTION:
IT'S NOT FOR REAL! Just for my campus stuff as an assignmet for English Business 2.
Thankyou ^^
Rabu, 29 April 2015
Selasa, 31 Maret 2015
Tugas Bahasa Inggris Bisnis 2 #
SATE MADURA
Really original Madura Indonesia has been to yet?
Sate Madura've ever eaten? Well this time I will discuss typical Sate Madura.
Sate Madura is famous throughout the country, Sate Madura can be found in
almost all regions, especially in big cities such as Medan, Jakarta, Bandung,
and Surabaya. It is said that in Madura itself satay hard to find. And not only
that of famous as the island of Madura also salt you know.
Okay, back to the Sate Madura. Typical satay Madura
usually made of chicken, but not just any chicken. Because there are also
contained on the mutton and beef hung sections marked with goat or cow's hind
legs in the group satay seller. But now it is uncommon for people who hang her.
And they rarely provide satay beef, most of them use chicken and goat meat.
Satay Seasoning typical Madura is a mixture of
finely ground nuts and a little onion paste. And roast them with the fire of
coconut shells already burned beforehand usually still called the coconut shell
charcoal. Savory taste of this sate loh friends! But for those who have high
cholesterol and uric acid suffering from acute food is not allowed, you know!
Suggestions wrote, ask that no heart (viscera). Satay chicken or goat typical
Madura usually served with peanut sauce or seasoning choices sauce and rice
cakes or rice.
How to cook
beans Spices Sate Khas Madura?
The first thing that must be prepared is a material
consisting of materials and material satay peanut sauce.
Materials made
of chicken satay Madura:
1. Chicken boneless 1 kg cut into dice box.
2. Sweet soy sauce 125 ml
3. Lime by 2
Madura typical
peanut sauce ingredients:
1. Garlic much as 4 cloves
2. Sweet soy sauce 125 ml
3. Lime leaves 2 pieces
4. Water 500 ml
5. Salt to taste
6. Peanuts that have been fried in 250 gr
7. Red chili as much as 2
8. Onion by 5
How to make the
peanut sauce:
Onion, salt, peanuts, garlic, and red peppers mixed
and smoothed. Then add soy sauce, lime leaves, and water. Cook until cooked up
out of oil, and the smell has smelled and fragrant.
How to make
chicken satay peanut sauce:
1. Cut the meat to be used in the form of dice and
then puncture and stacking the puncture satay.
2. Cook the spice paste together with water, soy
sauce, lime leaves, salt and pepper to a boil and cooked. Set aside.
3. Take a taste of the peanut sauce, mix again with
a sweet soy sauce. After wrapping, then coat the surface of the meat, let sit
for a while to be more pervasive. Grilled satay with occasional spread with
remaining seasoning spread and occasionally also be inverted so that cooked
evenly.
4. Serve skewers with peanut sauce splash of the
reserved, also fill the presentation with sliced tomatoes, sliced red onion
and lemon juice.
Selasa, 13 Januari 2015
TUGAS SOFTSKILL 4-BAHASA INDONESIA 2
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN RASIO KEUANGAN TERHADAP PERUBAHAN HARGA SAHAM INDUSTRI MANUFAKTUR DI BEI TAHUN 2004-2007
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah
Laporan keuangan
merupakan sebuah informasi yang penting bagi investor dalam mengambil keputusan
investasi. Investor tidak terlibat secara langsung dalam operasional perusahaan
sehingga tidak mempunyai informasi yang riil tentang kondisi perusahaan
tersebut. Adanya laporan keuangan sebagai produk manajemen kepada shareholder
maupun debtholder dapat membantu investor untuk melihat secara finansial
bagaimana jalannya perusahaan dan hasil yang telah dicapai. Manfaat laporan
keuangan tersebut menjadi optimal bagi investor apabila investor dapat menganalisis
lebih lanjut melalui analisis rasio keuangan. Rasio keuangan berguna untuk
memprediksi kesulitan keuangan perusahaan, hasil operasi, kondisi keuangan perusahaan
pada saat ini dan pada masa mendatang, serta sebagai pedoman bagi investor
mengenai kinerja masa lalu dan masa mendatang. Rasio keuangan yang sering
digunakan adalah rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, rasio
leverage, dan rasio pasar.
Rasio likuiditas
digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin kewajiban-kewajiban
lancarnya. Rasio ini antara lain rasio kas (cash ratio), rasio cepat (quick
ratio), dan rasio lancar (current ratio). Rasio leverage digunakan untuk
mengukur tingkat pengelolaan sumber dana perusahaan. Beberapa rasio ini 2 antara
lain rasio total hutang terhadap modal sendiri (Debt to Equity Ratio/DER), rasio
total hutang terhadap total aset (Debt to Total Assets/DTA), dan TIE (Time Interest
Earned).
Rasio likuiditas dan
rasio leverage merupakan rasio yang mengukur tingkat risiko keuangan perusahaan
dalam hubungannya dengan kewajiban terhadap pihak lain. Semakin tinggi risiko
ini, semakin besar pula investasi yang dilakukan oleh perusahaan. Diharapkan
dengan semakin tinggi tingkat investasi yang dilakukan perusahaan dapat
meningkatkan kemampuannya dalam menghasilkan laba. Namun, hal lain yang muncul
adalah semakin besar pula risiko likuiditas yang dapat mengakibatkan perusahaan
mengalami gagal bayar dan dapat membawa kearah kebangkrutan. Dua hal inilah
yang diperhatikan oleh investor ketika menganalisis risiko hutang perusahaan
yang kemudian dapat mempengaruhi keputusan bisnisnya dan juga mempengaruhi
harga saham sebuah perusahaan.
Rasio aktivitas
digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola aset-asetnya
sehingga memberikan aliran kas masuk bagi perusahaan. Rasio ini antara lain
rasio perputaran persediaan, rasio perputaran aktiva tetap, dan total asset turnover.
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Rasio ini antara lain GPM (Gross
Profit Margin), OPM (Operating Profit Margin), NPM (Net Profit Margin), ROA
(Return On Assets), dan ROE (Return On Equity). Rasio pasar adalah rasio yang
mengukur harga pasar relatif terhadap nilai buku perusahaan. Rasio ini 3 antara
lain PER (Price Earnings Ratio), dividend yield, DPR (Dividend Payout Ratio),
dan PBV (Price to Book Value).
Rasio-rasio ini
terutama rasio profitabilitas, merupakan rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba dan meningkatkan kemakmuran pemilik
perusahaan. Semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba,
investor akan memberikan penilaian yang tinggi karena diyakini akan menghasilkan
tingkat return saham yang tinggi. Analisa tentang rasio-rasio ini akan memberikan
pedoman bagi para investor untuk menilai kondisi dan kemampuan perusahaan di
masa yang akan datang dalam meningkatkan return saham dan kemakmuran mereka.
Terdapat banyak
penelitian yang meneliti tentang pengaruh rasio keuangan terhadap perubahan
harga saham (return saham). Seperti yang dilakukan oleh Ulupui (2006) yang
meneliti pengaruh rasio likuiditas, leverage, aktivitas, dan profitabilitas terhadap
return saham pada perusahaan makanan dan minuman dengan kategori industri
barang konsumsi di BEI. Hasil penelitian ini adalah hanya terdapat dua rasio yakni
current ratio dan ROA yang berpengaruh secara signifikan terhadap return saham.
Sasongko dan Wulandari
(2005) melakukan penelitian pengaruh EVA, ROA, ROE, ROS, BEP, dan EPS terhadap
harga saham industri manufaktur di BEI. Hasil penelitiannya adalah EPS
berpengaruh secara signifikan terhadap penilaian perusahaan, sedangakan rasio
yang lain tidak berpengaruh secara signifikan pada tingkat signifikansi 5%.
Asyik (1999) menemukan
bahwa rasio neraca dan laba rugi memiliki hubungan yang lebih kuat dengan
return saham dibandingkan dengan rasio arus kas. Sementara itu Haryanto (2003)
meneliti tentang pengaruh rasio profitabilitas terhadap harga saham pada
perusahaan minuman di BEI. Setelah menguji data dari laporan keuangan serta
harga saham perusahaan minuman di BEI, maka kesimpulannya bahwa dari beberapa
rasio profitabilitas yang digunakan dalam mengukur performa perusahaan ternyata
yang mempunyai pengaruh yang signifikan dengan harga saham adalah pengembalian ekuitas/Return
On Equity (ROE).
Rasio yang digunakan
dalam penelitian ini adalah rasio keuangan yang mencakup rasio likuiditas,
rasio profitabilitas, rasio aktivitas, dan rasio leverage. Perubahan rasio
likuiditas diwakili oleh perubahan current ratio yang dipilih untuk melihat
pengaruh pengelolaan modal kerja jangka pendek perusahaan terhadap return
saham. Perubahan rasio profitabilitas diwakili oleh perubahan Return On Assets (ROA)
yang dipilih untuk melihat apakah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
dari aset (aktiva) juga mempengaruhi return saham perusahaan tersebut.
Perubahan rasio aktivitas diwakili oleh perubahan rasio perputaran persediaan
yang dipilih untuk melihat pengaruh pengelolaan persediaan yang baik juga
mempengaruhi return saham mengingat rasio perputaran persediaan juga menunjukkan
aktivitas perusahaan dan penggunaan investasi jangka pendek. Perubahan rasio
leverage diwakili oleh perubahan Debt to Equity Ratio (DER) yang dipilih untuk
melihat apakah pengelolaan hutang jangka panjang maupun jangka pendek yang
dilakukan oleh manajemen mempengaruhi return saham perusahaan mengingat pembiayaan
hutang juga berasal dari penggunaan modal perusahaan.
I.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui apakah perubahan rasio keuangan (current ratio, ROA,
rasio perputaran persediaan, dan DER) mempengaruhi perubahan harga saham (return
saham) perusahaan.
I.3 Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti,
manfaat penelitian ini adalah untuk memahami pengaruh perubahan rasio keuangan
terhadap perubahan harga saham yang merupakan cerminan kondisi finansial
perusahaan dan reaksi pasar terhadap kondisi tersebut. Selain itu, penelitian
ini merupakan syarat untuk mendapatkan gelar sarjana.
2. Bagi para investor,
penelitian ini bermanfaat untuk menambah pemahaman investor mengenai kondisi
finansial perusahaan sehingga mampu membuat keputusan investasi yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Asyik, Nur Fadjrih. 1999. “Tambahan
Kandungan Informasi Rasio Arus Kas”. Jurnal Riset
Akuntansi Indonesia,
Vol.2 No.2, Juli: 230-250.
Gujarati, Damodar. 2006. Dasar-dasar
Ekonometrika. Edisi ketiga. Jakarta: Erlangga.
Haryanto dan Toto Sugiharto S. 2003.
“Pengaruh Rasio Profitabilitas terhadap Harga Saham
pada Perusahaan Minuman
di BEI”. Jurnal Ekonomi & Bisnis, No.3, Jilid 8.
Sasongko dan Wulandari. 2005. “Pengaruh
EVA dan Rasio-Rasio Profitabilitas terhadap
Harga Saham.
Universitas Muhammadiyah, Surakarta.
Standar Akuntansi Keuangan. 2007. IAI.
Jakarta: Salemba Empat.
Ulupui. 2006. “Analisis Pengaruh Rasio
Likuiditas, Leverage, Aktivitas, dan Profitabilitas
terhadap Return Saham studi
pada Perusahan Makanan dan Minuman dengan
Kategori Industri
Barang Konsumsi di Bursa Efek Indonesia”.
TUGAS SOFTSKILL 3-BAHASA INDONESIA 2
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
PT INDOCEMENT
TUNGGAL PRAKARSA Tbk
PENDAHULUAN
Pengertian Analisa Laporan Keuangan
Analisa
laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu
mengevalusi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan
masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling
mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang. Analisa
laporan keuangan sebenarnya banyak sekali namun pada penelitian kali ini
penulis menggunakan analisa rasio keuangan karena analisa ini lebih sering digunakan
dan lebih sederhana.
Pengertian Laporan Keuangan
Menurut
Munawir (2004:2) mengemukakan pengertian laporan keuangan sebagai berikut:
“Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat
digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu
perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas dari
perusahaan tersebut.”
Menurut
Harahap (2002:7) mengemukakan bahwa: “Laporan keuangan adalah merupakan pokok
atau hasil akhir dari suatu proses akuntansi yang menjadi bahan informasi bagi
para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan dan
juga dapat menggambarkan indikator kesuksesan suatu perusahaan mencapai
tujuannya.”
Sedangkan
menurut Standar Akuntansi Keuangan PSAK No. 1 (IAI:2004:04) mengemukakan bahwa:
“Laporan keuangan merupakan laporan periodik yang disusun menurut
prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum tentang status keuangan
dari individu, sosiasi atau organisasi bisnis yang terdiri dari neraca, laporan
laba rugi, laporan perubahan kuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan
keuangan.”
Laporan
keuangan adalah suatu bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan
yang lengkap biasanya meliputi: neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan
ekuitas (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya sebagai laporan arus
kas, atau laporan arus dana), dan catatan atas laporan keuangan.
PEMBAHASAN
A.
Isi
Laporan keuangan
Isi
Laporan Keuangan terdiri dari :
1.
Neraca
Neraca
menginformasikan posisi keuangan pada saat tertentu, yang tercermin pada jumlah
harta yang dimiliki, jumlah kewajiban, dan modal perusahaan. Menurut harahap
(2007:107) mengemukakan bahwa: “Laporan neraca atau daftar neraca disebut juga
laporan posisi keuangan perusahaan. Laporan ini menggambarkan posisi aktiva,
kewajiban, dan modal pada saat tertentu. Laporan ini disusun setiap saat dan
merupakan opname situasi keuangan pada saat itu.”
Dalam penyajiannya neraca dapat dibagi dalam 3
bentuk, menurut Harahap (2002:75) bentuk neraca yang umum digunakan adalah
sebagai berikut :
-
Bentuk Neraca Staffel (Refort Form),
Neraca ini dilaporkan satu halaman bertikal. Disebelah atas dicantumkan total
aktiva dan di bawahnya disajikan pos kewajiban dan pos modal.
-
Bentuk Neraca Skontro (Account Form), Di
sini aktiva disajikan di sebelah kiri dan kewajiban serta modal ditempatkan di
sebelah kanan sehingga penyajiannya sebelah-menyebelah.
-
Bentuk yang Menyajikan Posisi Keuangan
(Financial Position Form), Dalam bentuk ini posisi keuangan tidak dilaporkan
seperti dalam bentuk sebelumnya yang berpedoman pada persamaan akuntansi. Dalam
bentuk ini pertama-tama dicantumkan aktiva lancar dikurangi utang lancar dan
pengurangannya diketahui modal kerja. Modal kerja ditambah aktiva tetap dan
aktiva lainnya kemudian dikurangi utang jangka panjang, maka akan diperoleh
model pemilik.
2.
Perhitungan Laba Rugi
Laporan
laba rugi merupakan laporan mengenai pendapatan dan beban-beban suatu
perusahaan selama periode tertentu. Laporan laba rugi juga merupakan tujuan
utama untuk mengukur tingkat keuntungan dari perusahaan dalam suatu periode
tertentu. Hasil akhir dari suatu laporan laba rugi adalah keuntungan bersih
atau kerugian. Kemudian bila perusahaan tidak membagi deviden, maka seluruh
hasil akhir tersebut menjadi laba ditahan. Tetapi bila perusahaan membagi
deviden, maka hasil akhir tersebut terlebih dahulu dikurangi dengan deviden
untuk memperoleh nilai laba ditahan.
3. Laporan
Arus Kas
Laporan
arus kas menginformasikan perubahan dalam posisi keuangan sebagai akibat dari kegiatan
usaha, pembelanjaan, dan investasi selama periode yang bersangkutan. Menurut
Harahap (2002:93) mengemukakan bahwa: “Laporan arus kas ini dinilai banyak
memberikan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba dan
likuiditas di masa yang akan datang. Laporan arus kas ini memberikan informasi
yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas dari suatu perusahaan pada
suatu periode tertentu, dengan mengklasifikasikan transaksi berdasarkan pada
kegiatan operasi, pembiayaan dan investasi.”
4. Laporan
Perubahan Ekuitas
Menurut
Rivai, Veithzal dan Idroes (2007:619) mengemukakan bahwa: “Laporan
perubahan ekuitas merupakan laporan yang menggambarkan perubahan saldo akun
ekuitas seperti modal disetor, tambahan modal disetor, laba yang ditahan dan
akun ekuitas lainnya.”
Laporan keuangan diharapkan disajikan secara layak,
jelas, dan lengkap, yang mengungkapkan kenyataan-kenyataan ekonomi mengenai
eksistensi dan operasi perusahaan tersebut. Dalam menyusun laporan keuangan,
akuntansi dihadapkan dengan kemungkinan bahaya penyimpangan (bias), salah
penafsiran dan ketidaktepatan. Untuk meminimkan bahaya ini, profesi akuntansi
telah berupaya untuk mengembangkan suatu barang tubuh teori ini. Setiap
akuntansi atau perusahaan harus menyesuaikan diri terhadap praktik akuntansi
dan pelaporan dari setiap perusahaan tertentu.
B.
Arti
Penting Analisis Laporan Keuangan
Arti
penting analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut :
a. Bagi
pihak manajemen: untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, kompensasi, pengembangan
karier.
b. Bagi
pemegang saham: untuk mengetahui kinerja perusahaan, pendapatan, keamanan
investasi.
c. Bagi
kreditor: untuk mengetahui kemampuan perusahaan melunasi utang beserta
bunganya.
d. Bagi
pemerintah: pajak, persetujuan untuk go public.
e. Bagi
karyawan: Penghasilan yang memadai, kualitas hidup, keamanan kerja.
C.
Macam-Macam
Analisis Laporan Keuangan
Ada
dua jenis analisa laporan keuangan :
1. Analisis
Vertikal (menghubungkan antar pos-pos dalam suatu laporan keuangan):
analisis rasio, analisis modal kerja, analisis kas, dan seterusnya.
2. Analisis
Horizontal (menghubungkan pos-pos antar laporan keuangan): analisis perbandingan
(baik antar tahun).
D.
Manfaat
Analisis Laporan Keuangan
-
Dapat memberikan informasi yang lebih
luas, lebih dalam daripada yang terdapat dari laporan keuangan biasa.
-
Dapat menggali informasi yang tidak
tampak secara kasat mata (explicit) dari suatu laporan keuangan atau yang
berada di balik laporan keuangan (implicit).
-
Dapat mengetahui kesalahan yang
terkandung dalam laporan keuangan.
-
Dapat membongkar hal-hal yang bersifat
tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan
dengan komponen intern maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari
luar perusahaan.
-
Dapat mengetahui sifat-sifat hubungan
yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan teori-teori yang terdapat di
lapangan seperti untuk prediksi, peningkatan.
-
Dapat memberikan informasi yang
diinginkan oleh para pengambil keputusan.
-
Dapat menentukan peringkat (rating)
perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
E.
Tujuan
Laporan Keuangan
Menurut
Ikatan Akuntan Indonesia (2009:3), tujuan laporan keuangan adalah menyediakan
informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi
keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
pengambilan keputusan ekonomi. Sedangkan menurut Fahmi
(2011:28), tujuan utama dari laporan keuangan adalah memberikan informasi
keuangan yang mencakup perubahan dari unsur-unsur laporan keuangan yang
ditujukan kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam menilai kinerja
keuangan terhadap perusahaan di samping pihak manajemen perusahaan. Para
pemakai laporan akan menggunakannya untuk meramalkan, membandingkan, dan
menilai dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis yang diambilnya.
Informasi mengenai dampak keuangan yang timbul tadi sangat berguna bagi pemakai
untuk meramalkan, membandingkan dan menilai keuangan. Seandainya nilai
uang tidak stabil, maka hal ini akan dijelaskan dalam laporan keuangan. Laporan
keuangan akan lebih bermanfaat apabila yang dilaporkan tidak saja aspek-aspek
kuantitatif, tetapi mencakup penjelasan-penjelasan lainnya yang dirasakan
perlu. Dan informasi ini harus faktual dan dapat diukur secara objektif.
Beberapa tujuan laporan keuangan dari
berbagai sumber di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:
a. Informasi
posisi laporan keuangan yang dihasilkan dari kinerja dan aset perusahaan sangat
dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan, sebagai bahan evaluasi dan
perbandingan untuk melihat dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis
yang diambilnya.
b. Informasi
keuangan perusahaan diperlukan juga untuk menilai dan meramalkan apakah
perusahaan di masa sekarang dan di masa yang akan datang sehingga akan
menghasilkan keuntungan yang sama atau lebih menguntungkan.
c. Informasi
perubahan posisi keuangan perusahaan bermanfaat untuk menilai aktivitas
investasi, pendanaan dan operasi perusahaan selama periode tertentu. Selain
untuk menilai kemampuan perusahaan,laporan keuangan juga bertujuan sebagai
bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.
F.
Keterbatasan
Laporan Keuangan
-
Laporan keuangan yang dibuat secara
periodik pada dasarnya merupakan interim report (laporan yang dibuat
antara waktu tertentu yang sifatnya sementara) dan bukan merupakan laporan yang
final.
-
Laporan keuangan menunjukkan angka dalam
rupiah yang kelihatannya bersifat pasti dan tepat, tetapi sebenarnya dengan
standar nilai yang mungkin berbeda atau berubah-ubah.
-
Laporan keuangan disusun berdasarkan
hasil pencatatan transaksi keuangan atau nilai rupiah dari berbagai waktu atau tanggal
yang lalu dimana daya beli (purchasing power) uang tersebut menurun,
dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga kenaikan volume penjualan
yang dinyatakan dalam rupiah belum tentu menunjukkan atau mencerminkan unit
yang dijual semakin besar, mungkin kenaikan tersebut disebabkan naiknya harga
jual barang tersebut yang mungkin juga diikuti kenaikan harga-harga.
-
Laporan keuangan tidak dapat
mencerminkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi posisi atau keadaan
keuangan perusahaan karena faktor-faktor tersebut tidak dapat dinyatakan dengan
suatu uang.
G.
Ratio
Keuangan
Salah
satu alat analisis laporan keuangan adalah dengan menggunakan analisis Ratio
Financial Statement untuk mengetahui prestasi keuangan perusahaan dari tahun
ketahun dan hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk menilai kinerja
perusahaan.
1. Ratio
Likuiditas adalah ratio yang menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan saat ditagih.
2. Ratio
Solvabilitas yaitu mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya
dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Ratio ini
dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh
hutang ratio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi
pinjaman (bank).
3. Ratio
Provitabiltas / Rentablitas yaitu ratio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam memperoleh laba/keuntungan suatu perusahaan untuk mewujudkan
perbandingan antara laba dengan aktiva/modal yang menghasilkan laba
tersebut.
4. Ratio
Aktivitas digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan
sumber daya yang dimiliki.
Berikut
adalah laporan keuangan PT.Indocement Tunggal Prakarsa.tbk tahun 2011, 2012,
dan 2013 beserta analisis dan perhitungan 4 Ratio diatas!



Per
Desember Tahun 2011 (Disajikan dalam jutaan rupiah)
1. Ratio
Likuiditas
Current
Ratio = Total Aktiva Lancar / Total
Hutang Lancar
Current
Ratio = Rp 10314573 / Rp 1476597
= Rp 6,99
Analisis
: Setiap Rp.1 hutang lancar dijamin oleh 6,99 harta lancar atau perbandingannya
antara aktiva lancer dengan hutang lancer adalah 6,99 : 1.
Quick
Ratio = (Total Aktiva Lancar -
Persediaan) / Total Hutang Lancar
Quick
Ratio = (Rp 10314573 – Rp
1327720) / Rp 1476597
= Rp 8986853 / Rp 1476597
= Rp 6,09
Analisis
: Rata-rata industri tingkat liquidnya / quick ratio adalah 0,5 kali sedangkan
PT.Indocement Tunggal Prakarsa.tbk 6,09 maka keadaannya sangat baik karena
perusahaan dapat membayar hutang walaupun sudah dikurangi persediaan.
2. Ratio
Solvabilitas
Total
Debt to Equity Ratio = (Total
Hutang / Ekuitas pemegang saham) X 100%
Total
Debt to Equity Ratio = (Rp
2417380 / Rp 15733951) X 100%
= 0,15 = 15%
Analisis
: Merupakan perbandingan antara hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan
dan menujukan kemampuan modal sendiri , perusahaan untuk memenuhi seluruh
kewajibannya. Perusahaan dibiayai 15% untuk tahun 2011.
To
Debt to Asset Ratio = (Total Hutang /
Total Aktiva) X 100%
To
Debt to Asset Ratio = (Rp 2417380 / Rp
18151331) X 100%
= 0,13 = 13%
Analisis
: Pendanaan perusahaan dibiayai dengan hutang untuk tahun 2011 artinya bahwa
setiap Rp 100,- pendanaan perusahaan Rp 13,- dibiayai dengan hutang dan Rp
87,- disediakan oleh pemegang saham.
3. Ratio
Provitabilitas / Rentabilitas
Gross
Provit Marginal = (Laba Kotor /
Penjualan Bersih) X 100%
Gross
Provit Marginal = Rp 6414223 / Rp
13887892
= 0,46 = 46%
Analisis
: Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari penjualan bersih
adalah sebesar 46%.
Net
Profit Marginal = (Laba Setelah
Pajak / Total Aktiva) X 100%
Net
Profit Marginal = Rp 3601516 /
18151331
= 0,20 = 20%
Analisis
: Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari penjualan bersih
adalah sebesar 20%.
Operating
Profit Margin = (Laba Usaha / Penjualan
Bersih) X 100%
Operating
Profit Margin = Rp 4418023 / Rp 13887892
= 0,32 = 32%
Analisis
: Operating ratio mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan sehingga ratio ini
rendah menunjukan keadaan yang baik karena setiap rupiah penjualan yang
terserap dengan biaya juga rendah dan tersedia untuk laba yang besar.
Return
of Equity = (Laba bersih setelah pajak /
Total modal pemegang saham) X 100%
Return
of Equity = Rp 3601516 / Rp 15733951
= 0,23 = 23%
Analisis
: Pengembalian atas modal perusahaan sebesar 23%
4. Ratio
Aktivitas
Inventory
Turnover = HPP / Persediaan
Inventory
Turnover = Rp 60079 / Rp 1327720
= 0,045
Analisis
: Inventory Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam persediaan yang berputar pada suatu periode tertentu. Pada perusahaan ini
Inventory Turnovernya sebesar 0,045.
Total
Asset Turnover = Penjualan Bersih /
Total Aktiva
Total
Asset Turnover = Rp 13887892/
Rp 18151331
= 0,76
Analisis
: Total Asset Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam keseluruhan aktiva yang berputar pada suatu periode. Pada perusahaan ini
Total Asset Turnovernya sebesar 0,76.
Receivable
Turnover = Penjualan Bersih /
Piutang
Receivable
Turnover = Rp 13887892 / Rp
1942259
=7,15
Analisis
: Receivable Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
mengelola dana yang tertanam dalam piutang yang berputar pada suatu periode
tertenutu. Pada perusahaan ini Receivable Turnovernya sebesar 7,15.
Working
Capital Turnover = Penjualan
bersih / (Total aktiva lancar – Total Hutang Lancar)
Working
Capital Turnover = Rp 13887892
/ (Rp 10314573 - Rp 1476597)
= Rp 13887892 / Rp 8837976
= 1,58
Analisis
: Working Capital Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan modal kerja yang
berputar pada satu periode siklus kas yang terdapat pada perusahaan. Pada
perusahaan ini Working Capital Turnovernya sebesar 1,58.



Per
Desember Tahun 2012 (Disajikan dalam jutaan rupiah)
1. Ratio
Likuiditas
Current
Ratio = Total Aktiva Lancar / Total
Hutang Lancar
Current
Ratio = Rp 14579400 / Rp 2418762
= Rp 6,03
Analisis
: Setiap Rp.1 hutang lancar dijamin oleh 6,03 harta lancar atau perbandingannya
antara aktiva lancer dengan hutang lancer adalah 6,03 : 1.
Quick
Ratio = (Total Aktiva Lancar -
Persediaan) / Total Hutang Lancar
Quick
Ratio = (Rp 14579400 – Rp
1470305) / Rp 2418762
= Rp 13109095 / Rp 2418762
= Rp 5,42
Analisis
: Rata-rata industri tingkat liquidnya / quick ratio adalah 0,5 kali sedangkan
PT.Indocement Tunggal Prakarsa.tbk 5,42 maka keadaannya sangat baik karena
perusahaan dapat membayar hutang walaupun sudah dikurangi persediaan.
2. Ratio
Solvabilitas
Total
Debt to Equity Ratio = (Total
Hutang / Ekuitas pemegang saham) X 100%
Total
Debt to Equity Ratio = (Rp
3336422 / Rp 19418738) X 100%
= 0,17 = 17%
Analisis
: Merupakan perbandingan antara hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan
dan menujukan kemampuan modal sendiri , perusahaan untuk memenuhi seluruh
kewajibannya. Perusahaan dibiayai 17% untuk tahun 2012.
To
Debt to Asset Ratio = (Total Hutang /
Total Aktiva) X 100%
To
Debt to Asset Ratio = (Rp 3336422 / Rp
22755160) X 100%
= 0,14 = 14%
Analisis
: Pendanaan perusahaan dibiayai dengan hutang untuk tahun 2012 artinya bahwa
setiap Rp 100,- pendanaan perusahaan Rp 14,- dibiayai dengan hutang dan Rp 86,-
disediakan oleh pemegang saham.
3. Ratio
Provitabilitas / Rentabilitas
Gross
Provit Marginal = (Laba Kotor /
Penjualan Bersih) X 100%
Gross
Provit Marginal = Rp 8269999 / Rp
17290337
= 0,48 = 48%
Analisis
: Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari penjualan bersih
adalah sebesar 48%.
Net
Profit Marginal = (Laba Setelah
Pajak / Total Aktiva) X 100%
Net
Profit Marginal = Rp 4763388 /
Rp 22755160
= 0,20 = 20%
Analisis
: Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari penjualan bersih
adalah sebesar 20%.
Operating
Profit Margin = (Laba Usaha / Penjualan
Bersih) X 100%
Operating
Profit Margin = Rp 5876742 / Rp 17290337
= 0,34 = 34%
Analisis
: Operating ratio mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan sehingga ratio ini
rendah menunjukan keadaan yang baik karena setiap rupiah penjualan yang
terserap dengan biaya juga rendah dan tersedia untuk laba yang besar.
Return
of Equity = (Laba bersih setelah pajak /
Total modal pemegang saham) X 100%
Return
of Equity = Rp 4763388 / Rp 19418738
= 0,24 = 24%
Analisis
: Pengembalian atas modal perusahaan sebesar 24%
4. Ratio
Aktivitas
Inventory
Turnover = HPP / Persediaan
Inventory
Turnover = Rp 100506 / Rp
1470305
= 0,069
Analisis
= Inventory Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam persediaan yang berputar pada suatu periode tertentu. Pada perusahaan ini
Inventory Turnovernya sebesar 0,069.
Total
Asset Turnover = Penjualan Bersih /
Total Aktiva
Total
Asset Turnover = Rp 17290337 / Rp
22755160
= 0,76
Analisis
: Total Asset Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam keseluruhan aktiva yang berputar pada suatu periode. Pada perusahaan ini
Total Asset Turnovernya sebesar 0,76.
Receivable
Turnover = Penjualan Bersih /
Piutang
Receivable
Turnover = Rp
17290337 / Rp 2456113
=7,04
Analisis
: Receivable Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
mengelola dana yang tertanam dalam piutang yang berputar pada suatu periode
tertenutu. Pada perusahaan ini Receivable Turnovernya sebesar 7,04.
Working
Capital Turnover = Penjualan
bersih / (Total aktiva lancar – Total Hutang Lancar)
Working
Capital Turnover = Rp 17290337
/ (Rp 14579400 - Rp 2418762)
= Rp 17290337 / Rp 12160638
= 1,42
Analisis
: Working Capital Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan modal kerja yang
berputar pada satu periode siklus kas yang terdapat pada perusahaan. Pada
perusahaan ini Working Capital Turnovernya sebesar 1,42.



Per Desember Tahun 2013 (Disajikan dalam jutaan rupiah)
1. Ratio
Likuiditas
Current
Ratio = Total Aktiva Lancar / Total
Hutang Lancar
Current
Ratio = Rp 16846248 / Rp 2740089
= Rp 6,15
Analisis
: Setiap Rp.1 hutang lancar dijamin oleh 6,15 harta lancar atau perbandingannya
antara aktiva lancer dengan hutang lancer adalah 6,15 : 1.
Quick
Ratio = (Total Aktiva Lancar -
Persediaan) / Total Hutang Lancar
Quick
Ratio = (Rp 16846248 – Rp
1473645) / Rp 2740089
= Rp 15372603 / Rp 2740089
= Rp 5,61
Analisis
: Rata-rata industri tingkat liquidnya / quick ratio adalah 0,5 kali sedangkan
PT.Indocement Tunggal Prakarsa.tbk 5,61 maka keadaannya sangat baik karena
perusahaan dapat membayar hutang walaupun sudah dikurangi persediaan.
2. Ratio
Solvabilitas
Total
Debt to Equity Ratio = (Total
Hutang / Ekuitas pemegang saham) X 100%
Total
Debt to Equity Ratio = (Rp
3629554 / Rp 22977687) X 100%
= 0,16 = 16%
Analisis
: Merupakan perbandingan antara hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan
dan menujukan kemampuan modal sendiri , perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya.
Perusahaan dibiayai 16% untuk tahun 2013.
To
Debt to Asset Ratio = (Total Hutang /
Total Aktiva) X 100%
To
Debt to Asset Ratio = (Rp 3629554 / Rp
26607241) X 100%
= 0,14 = 14%
Analisis
: Pendanaan perusahaan dibiayai dengan hutang untuk tahun 2013 artinya bahwa
setiap Rp 100,- pendanaan perusahaan Rp 14,- dibiayai dengan hutang dan Rp 86,-
disediakan oleh pemegang saham.
3. Ratio
Provitabilitas / Rentabilitas
Gross
Provit Marginal = (Laba Kotor /
Penjualan Bersih) X 100%
Gross
Provit Marginal = Rp 8654654 / Rp
18691286
= 0,47 = 47%
Analisis
: Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor dari penjualan bersih
adalah sebesar 47%.
Net
Profit Marginal = (Laba Setelah
Pajak / Total Aktiva) X 100%
Net
Profit Marginal = Rp 5012294 /
Rp 26607241
= 0,19 = 19%
Analisis
: Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari penjualan bersih
adalah sebesar 19%.
Operating
Profit Margin = (Laba Usaha / Penjualan
Bersih) X 100%
Operating
Profit Margin = Rp 6064100 / Rp 18691286
= 0,32 = 32%
Analisis
: Operating ratio mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan sehingga ratio ini
rendah menunjukan keadaan yang baik karena setiap rupiah penjualan yang
terserap dengan biaya juga rendah dan tersedia untuk laba yang besar.
Return
of Equity = (Laba bersih setelah pajak /
Total modal pemegang saham) X 100%
Return
of Equity = Rp 5012294 / Rp 22977687
= 0,22 = 22%
Analisis
: Pengembalian atas modal perusahaan sebesar 22%
4. Ratio
Aktivitas
Inventory
Turnover = HPP / Persediaan
Inventory
Turnover = Rp 136248 / Rp
1473645
= 0,092
Analisis
: Inventory Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam persediaan yang berputar pada suatu periode tertentu. Pada perusahaan ini
Inventory Turnovernya sebesar 0,092.
Total
Asset Turnover = Penjualan Bersih /
Total Aktiva
Total
Asset Turnover = Rp 18691286 / Rp
26607241
= 0,702
Analisis
: Total Asset Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam keseluruhan aktiva yang berputar pada suatu periode. Pada perusahaan ini
Total Asset Turnovernya sebesar 0,702.
Receivable
Turnover = Penjualan Bersih /
Piutang
Receivable
Turnover = Rp 18691286 / 2519117
= 7,42
Analisis
: Receivable Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
mengelola dana yang tertanam dalam piutang yang berputar pada suatu periode
tertenutu. Pada perusahaan ini Receivable Turnovernya sebesar 7,42.
Working
Capital Turnover = Penjualan
bersih / (Total aktiva lancar – Total Hutang Lancar)
Working
Capital Turnover = Rp 18691286
/ (Rp 16846248 - Rp 2740089)
= Rp 18691286 / Rp 14106159
= 1,32
Analisis
: Working Capital Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan modal kerja yang
berputar pada satu periode siklus kas yang terdapat pada perusahaan. Pada
perusahaan ini Working Capital Turnovernya sebesar 1,32.
H.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Laporan Keuangan
a. Struktur
Permodalan
b. Aspek
Pemasaran
c. Ekuitas
d. Pendapatan,
Beban, Laba/Rugi, Pendapatan Komperhesif lain dan Total Laba/Rugi Komperhesif
e. Arus
Kas
f. Kemampuan
Membayar Hutang
g. Tinjauan
Operasional
h. Analisis
Kinerja
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Komentar (Atom)

